Pegadaian dan Islam

PEGADAIAN (RAHN) DALAM ISLAM
(Sosial dan Ekonomi)

Lailin Nurul Hidayah, 08610036
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Malang
Jl. Gajayana no 50, Malang
Email: Lailin_enha@yahoo.com

PENDAHULUAN
Agama islam adalah risalah (pesan-pesan) yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad SAW. Sebagai petunjuk dan pedoman yang mengandung hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan dalam menyelenggarakan tata cara kehidupan manusia, yaitu mengatur hubungan manusia dengan manusia lainya, hubungan manusia dengan alam, hubungan manusia dengan khaliknya. Agama islam juga mengajarkan pada umatnya supaya hidup saling tolong menolong, yang kaya harus menolong yang miskin, yang kuat harus menolong yang lemah dan yang mampu menolong yang tidak mampu. Bentuk tolong menolong ini bisa berbentuk pemberian juga pinjaman.
Sejak manusia lahir ke dunia sudah memerlukan materi (harta) sebagai bekal hidup, karena manusia membutuhkan makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Dan dalam menjalani kehidupan, tidak selamanya manusia hidup kecukupan, adakalanya manusia mengalami kesulitan dalam perekonomian. Dan sebagian manusia untuk mengatasi kesulitanya menggunakan rahn atau jasa gadai. Dalam kesempatan ini, penulis akan mengulas tentang rahn atau gadai serta hukum-hukum yang mendasari gadai.

PEMBAHASAN
A. Pengertian
Transaksi hukum gadai dalam fikih islam disebut ar-rahn. Ar-rahn adalah suatu jenis perjanjian untuk menahan suatu barang sebagai tanggungan utang. Pengertian ar-rahn dalam bahasa Arab adalah ats-tsubut wa ad-dawam, yang berarti tetap dan kekal, seperti dalam kalimat maut rahin, yang berarti air yang tenang. Pengertian gadai (rahn) secara bahasa seperti diungkapkan diatas adalah tetap, kekal, dan jaminan. Sedangkan dalam istilah adalah menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai jaminan secara hak, dan dapat diambil kembali sejumlah harta dimaksud sesudah ditebus. Namun pengertian gadai yang terungkap dalam Pasal 1150 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah suatu hak yang diperoleh seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak, yaitu barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh orang yang mempunyai utang atau orang lain atas nama orang yang mempunyai utang. Karena itu, maka gadai (rahn) dalam bahasa hukum perundang-undangan disebut sebagai barang jaminan, agunan, dan rungguhan.
Berdasarkan pengertian gadai yang dikemukakan oleh para ahli hukum islam di atas, Dr Zainuddin berpendapat bahwa gadai (rahn) adalah menahan barang jaminan yang bersifat materi milik si peminjam (rahin) sebagai jaminan atas pinjaman yang diterima, dan barang yang diterima tersebut bernilai ekonomis, sehingga pihak yang menahan (murtahin) memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian hutangnya dari barang gadai yang dimaksud, bila pihak yang menggadaikan tidak dapat membayar hutang pada waktu yang telah ditentukan.
Bagi kita seorang mahasiswa, mungkin gadai bukan hal yang asing lagi. Bahkan di masyrakat uum mungkin gadai sudah hal yang biasa. Dari pengertian dan dari fenomena, penulis bisa menyimpulkan bahwasanya rahn atau gadai merupakan peminjaman uang atau apapun itu dengan cara pemberiaan jaminan, baik berupa barang ataupun yang lainya, dan barang tersebut akan dikembalikan jika peminjaman uang atau barang telah dikembalikan.

B. Dasar Hukum Gadai
Boleh tidaknya transaksi gadai dalam islam diatur dalam Al-Qur’an, sunnah, dan ijtihad. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat digunakan sebagaidasar hukum perjanjian gadai adalah QS Al-Baqarah ayat 282 dan 283.
Dasar hukum kedua adalah hadits dan yang digunakan rujukan dalam membuat rumusan gadai syari’ah adalah hadits nabi Muhammad SAW.,yang antara lain adalah sebagai berikut:

- حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بنُ اَبى شَيْبَةَ. ثَنَا حَفْضُ بْنُ غِيَاثٍ. عَنِ اْلأَعْمَاشِ، عَنْ إِبْرَاهِيْمَ. حَدَّثَنىِ اْلأَسْوَدُ عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى مِنْ يَهُوْدِيٍّ طَعَامًا إِلىَ أَجَلٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ.
Telah meriwayatkan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; telah meriwayatkan kepada kami Hafsh bin Ghiyats, dari Al-A’masy, dari Ibrahim; Meriwayatkan kepadaku Al-Aswad, dari ‘A-isyah, bahwasanya Nabi saw. membeli makanan dari seorang Yahudi secara bertempo, sedangkan be-liau menggadaikan baju besinya kepada Yahudi itu.
Para ulama telah sepakat tentang disyariatkannya rahn (gadai), mereka tidak berbeda pendapat tentang kebolehan akad rahn tersebut. namun ada yang berpegang dari ayat bahwasanya gadai diperbolehkan jika dalam keadaan perjalanan saja. Namun sebagian besar ulama’ berpendapat membolehkan gadai baik dalam hal berpergian atau tidak.
Dari semua dasar hukum yang ada tentang rahn (gadai), dapat dikatakan bahwasanya rahn diperbolehkan dalam Islam selama dalam hal kebaikan dan memang kondisi yang ada benar-benar terdesak, seperti teladan Rosulullah yang telah diberikan di atas.

C. Syarat Sah Gadai
Menurut Sayyid Sabiq, bahwa gadai itu baru dianggap sah apabila memenuhi empat syarat, yaitu :
1. Orang sudah dewasa
2. Berpikiran sehat
3. Barang yang digadaikan sudah ada pada saat terjadi akad gadai
4. Barang gadaian itu dapat diserahkan atau dipegang oleh pegadai
Barang atau benda yang dijadikan jaminan itu dapat berupa emas, berlian dan benda bergerak lainya dan dapat pula berupa surat-surat berharga (surat tanah, rumah)
Dari paparan Bapak Ali Hasan dan referensi lainya, sangatlah jelas bahwasanya suatu akad gadai dikatakan sah apabila memenuhi empat syarat di atas. Jika salah satu dari syarat ada yang terlewatkan, maka gadai tersebut bisa dikatakan tidak sah.
D. Pemanfaatan Barang Gadaian
Dalam masyarakat kita, ada cara gadai yang hasil barang gadaian itu, langsung dimanfaatkan oleh pegadai(orang yang memberi piutang). Banyak terjadi terutama di desa-desa, bahwa sawah dan kebun yang digadaikan langsung dikelola oleh pegadaian dan hasilnyapun sepenuhnya dimanfaatkannya.
Ada cara lain bahwa sawah atau kebun yang dijadikan jaminan itu, diolah oleh pemilik sawah atau kebun itu, tetapi hasilnya dibagi antara pemilik dan pegadai. Seolah-olah jaminan itu milik pegadai selama utangnya itu belum dikembalika.
Pada dasarnya pemilik barang seperti sawah (ladang), dapat mengambil manfaat dari sawah (ladang) itu, berdasarkan sabda Rosulullah :
“jaminan itu tidak menutupi yang punyanya dari manfaat arang (yang digadaikan) itu, faedah kepunyaan dia, dan dia juga wajib memikul beban (pemeliharaan).”(HR. Syafi’i dan Daru-Quthni)
Sabda Rosulullah :
– حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِبْنُ أبىِ شَيْبَةَ، ثَنَا وَكِيْعً عَنْ زَكَرِيَّا، عَنِ الشَّعْبِىِّ، عَنْ اَبىِ هُرَيْرَةَ: قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “اَلظًّهْرُ يُرْكَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُوْنًا، وَلَبَنُ الدَّارِ يُشْرَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا. وَعَلىَ الَّذِى يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ نَفَقَتُهُ”

Meriwayatkan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Meriwayatkan kepada kami Waki’, dari Zakariyya, dari Asy-Sya’biy, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Punggung binatang itu boleh dinaiki jika menjadi barang gadaian. Dan susu yang memancar boleh diminum, apabila menjadi barang gadaian. Dan bagi orang yang menunggangi serta meminum (susunya) berkewajiban memberinya naf-kah (makan).

Kendatipun pemilik barang (jaminan) boleh memanfaatkan hasilnya, tetapi dalam beberapa hal dia tidak boleh bertindak untuk menjual, mewakafkan atau menyewakan barang jaminan itu, sebelum ada persetujuan dari pegadai.
Apabila kita pahami, kedua hadits di atas, maka apa yang berlaku dalam masyarakat kita, sudah menyalahi ketentuan agama, karena seolah-olah pegadai berkuasa penuh atas jaminan itu. Cara seperti demikian, merupakan pemerasan dan sama dengan praktek riba, jika kita berpegang pada hadits :
Artinya : “Semua pinjaman yang menarik manfaat adalah riba”(HR.Al-Haris)
Setelah kita lihat lahirilah hadits tersebut, maka pemanfaatan barang jaminan tetap tidak boleh walaupun walaupun ada izin dari pemiliknya. Hadits tersebutlah yang digunakan pegangan oleh sebagian besar ulama’. Tetapi menurut ulama’ Hanafi, pegadaian boleh memanfaatkan barang itu atas seizin pemilik. Sebab pemilik barang itu boleh mengizinkan pada siapa saja yang dikehendakinya, termasuk pegadai dapat mengambil manfaat dan tidak termasuk riba. Menurut Syltut sejalan fikiranya dengan ulama’ Hanafi dengan ketentuan, bahwa izin pemilik benar-benar keluar dari hati yang tulus ikhlas. Sedangkan menurut Syafi’iyah dan Malikiyah, sekalipun memilii izin, pemegang gadai tetap haram mengambil manfaat barang jaminan. Menurut mereka persoalan ini tidak berkaitan dengan adanya izin, melainkan dengan keharaman pengambilan manfaat atas utang yang tergolong riba yang di haramkan oleh syara’.
Menurut M,Ali Hasan barang jaminan dari seperti sawah atau ladang hendaklah diolah supaya tidak mubadzir dan hasilnya bisa dibagi antara penggadai dan pemilik, atas kesepakatan bersama. Ada satu hal yang sangat penting yang harus di ingat, bahwa hasilnya tidak boleh menjadi sepenuhnya milik pegadai, seperti yang berlaku dalam masyarakat dan dalam prakteknya yang kerap ada. Dan praktek seperti inilah yang di upayakan lurus sesuai dengan ajaran islam yang ada.
Memang dalam masyarakat kita, dalam hal gadai barang yang menjadi jaminan kadang dianggap miliknya sendiri oleh penggadai. Hal tersebut harus diluruskan. Namun jika memang pengguanaan seperti sawah memiliki tujuan baik, yaitu jika tidak digunakan mubadzir, hal tersebut diperbolehkan. Itupun hasilnya harus dibag kedua belah fihak sesuai dengan perjanjian. Itulah indahnya agama kita. Begitu sangat menghargai orang lain dalam beberapa aspek kehidupan. Dan berbagai hukum yang ada dalam Islam itu merupakan hal yang terbaik untuk umatnya.

KESIMPULAN
Dalam menangani masalah sosial dan ekonomi yang ada dalam masyarakat, berbagai macam tindakan-tindakan sosial maupun ekonomi sebagai respon dari masalah-masalah yang muncul di dalam masyarakat. Kata gadai bukan hal yang baru dalam telingan manusia yang sudah dewasa, karena gadai juga merupakan suatu sistem yang ada yang mengurusi tentang penanganan masalah sosial dan ekonomi.
Gadai merupakan menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai jaminan secara hak, dan dapat diambil kembali sejumlah harta dimaksud sesudah ditebus. Gadai sudah ada dalam zaman Rosul, seperti yang tertera dalam beberapa hadits nabi. Dalam Al-Qur’an juga terdapat hukum yang membicarakan tentang gadai, yaitu surat Al-Baqarah ayat 282 dan 283. Dan hukum yang dapat di ambil dari Al-Qur’an, Hadits dan pendapat sebagian besar ulama’ mengenai gadai adalah mubah (boleh), dengan beberapa syarat dan ketentuan yang telah ada. Dan selama gadai itu digunakan dalam hal kebaikan dan memang dalam kondisi yang memang benar-benar tidak ada, gadai diperbolehkan.
Banyak pendapat yang berbeda baik tentang hukum dari gadai maupun tentang pemanfaat barang gadaian serta bahasan yang lainya, namun kita sebagai umat islam hendaklah hal tersebut tidak dijadikan serbagai perselisihan antara umat. Mana hal yang kita yakini dan selama keyakinan itu tidak keluar dari syara’ maka lakukanlah. Dan janganlah sampai antar kita menggunjing orang yang berlainan pendapat atau pemahaman dari kita. Kita harus ingat bahwasanya Islam yang ada saat ini sudah rapuh, janganlah kita tambah masalah yang menjadikan makin rapuh agama kita. Jadikanlah perbedaan yang ada sebagai perekat dari iman yang ada dalam diri umat Islam.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Zainuddin. 2008. Hukum Gadai Syriah. Jakarta : Sinar Grafika
Hasan, M. Ali. Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam. 2004. Jakarta: Rajawali Press
Mas’adi, Ghufron A. . 2002. Fiqh Muamalah Kontekstual. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Hadi, Moh. Sholikul. 2003. Pegadaian Syariah. Jakrta: Salemba Diniyah

About lailintittut

q gak gampang putus asa...

Posted on Juni 27, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: