Pembidangan Fiqh (Ruang Lingkup Fiqh)

BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang
Ilmu merupakan pondasi manusia dalam menuju segala sesuatu yang bersifat duniawi ataupun dikehidupan yang mendatang. Tanpa ilmu manusia bagaikan orang buta yang kehilangan tongkatnya. Mempelajari ilmu yang dimiliki merupakan salah satu usaha manusia untuk menggapai yang ia inginkan. Usaha yang ada tak kan bisa sempurna tanpa adanya agama yang selalui di jadikan pegangan dalam tiap langkah.
Islam merupakan suatu agama yang memiliki keaslian hukum dan landasanya yang bersifat universal, elastis dan mendalam di segala bidang. Kita sebagai umat islam sangatlah merugi jika tidak mempelajari ilmu agama kita, agama islam. Mempelajari ilmu agama merupakan salah satu cara manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Begitu jug dengan mengajarkan hukum agama juga merupakan cara pendekatan diri yang mulia, apalagi yang berhubungan dengan hukum fiqh. Sehingga semua orang akan menjadi jelas dalam urusanya, ibadahnya, amalanya, dan bermanfaat di dunia dan akhirat.
Salah satu cabang dari ilmu fiqh yang penting untuk kita pelajari adalah ibadah dan muamalah. Ibadah merupakan segala sesuatu yang dilakukan manusia dalam rangka mencari ridla Allah SWT. Sedangkan muamalah merupakan semua hukum yang diciptakan oleh Allah untuk mengatur hubungan sosial manusia.
Dengan demikian, dalam makalah ini akan dibahas lebih mendalam tentang ibadah dan muamalah serta contoh dari kedunya. Diharapkan pembaca mengetahui secara jelas tentang muamalah dan ibadah dan semoga dengan mengetahui itu semua, segala sesuatunya yang kita kerjakan mendapat Ridlo Allah SWT.

I.II Rumusan Masalah
1. Apa saja pembidangan ilmu fiqh ?
2. Apakah yang dimaksud dengan ibadah dan muamalah ?
3. Bagaimana konsep Fiqh tentang ibadah ?
4. Bagaimana konsep Fiqh tentang muamalah ?
5. Apa sajakah bentuk-bentuk dari muamalah dan ibadah ?

I.III Tujuan
1. mengetahui pembidangan ilmu Fiqh
2. mengetahui pengertian dari ibadah dan muamalah.
3. mengetahui konsep fiqh tentang ibadah.
4. mengetahui konsep fiqh tentang muamalah
5. mengetahui bentuk-bentuk dari muamalah dan ibadah.

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 IBADAH
• Pengertian Ibadah
Menurut ulama fiqih, ibadah adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh keridlaan Allah Swt dan mendapatkan pahala darinya di akhirat.
Sedangkan menurut bahasa ibadah adalah patuh, tunduk, taat,mengikuti, dan doa. Ibadah dalam arti taat diungkapkan dalam Al-Quran, antara lain dalam surat yasin ayat 60
               
Artinya:
Bukankah aku telah memerintahkan kepada kamu wahai bani adam supaya kamu tidak menyembah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.
Ibadah ditinjau dari segi bentu dan sifatnya ada lima macam, yaitu:
1. Ibadah dalam bentuk perkataan atau lisan(ucapan), seperti berdzikir, berdoa, tahmid, dan membaca Al-Quran
2. Ibadah dalam bentuk perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti: jihad, menolong orang lain, membantu, dan tajhiz al- janazah(mengurus jenazah)
3. Ibadah dalam bentuk pekerjaan yang telah ditentukan wujud perbuatannya, seperti: shalat, puasa, zakat, dan haji
4. Ibadah yang tata cara dan pelaksanaannya berbentuk menahan diri seperti: puasa, iktikaf, dan ihram
5. Ibadah yang berbentuk menggugurkan hak, seperti memaafkan orang yang telah melakukan kessalahan terhadapdirinya dan membebaskan seseorang yang berutang kepadanya.
• Hakikat ibadah
Dengan agama hidup manusia menjadi bermakna, makna agama terletak pada fungsinya sebagai kontrol moral manusia. Melalui ajaran-ajaranya, agama menyuruh manusia agar selalu dalam keadaan sadar dan menguasai diri. Keadaan sadar dan menguasai diri itulah yang sebenarnya merupakan hakikat agama atau hakikat ibadah. Melalui ibadah kepada Allah hidup manusia menjadi terkontrol. Menumbuhkan kesadaran diri manusia bahwa ia adalah makhluk Allah SWT.
• Macam- macam ibadah
1. Ibadah khassah (khusus) atau ibadah mahdah (ibadah yang ketentuannya pasti)
2. Ibadah ammah (umum) yakni semua perbuatan yang mengdatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat yang ikhlas karena allah Swt.
II.1.1 Konsep fiqh tentang ibadah

III.1.II Aplikasi Ibadah dalam kehidupan sehari-hari
1. Sholat
Kata sholat pada dasarnya berakar dari kata صلاة yang berasal dari kata kerja “يصلۍ –صلۍ” menurut pengertian bahasa mengandung dua makna yaitu “berdoa” dan “bersalawat”. Secara istilah “shalat” diartikan sebagai pernyataan bakti dan memuliakan Allah dengan gerakan-gerakan badan dan perkataan-perkataan tertentu dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dan dilakukan waktu-waktu tertentu setelah memenuhi syarat-syarat.
Shalat merupakan salah satu kegiatan ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim. Sholat merupakan salah satu dari rukun Islam. Sebagai sebuah rukun agama,sholat menjadi dasar yang harus ditegakkan dan ditunaikan sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat yang ada.sehingga Rosulullah menyatakannya sebagai tiang (fondasi) agama.

الصلاة عماد الدين فمن ٲقا مها فقد ٲقا الدين ومن تركها فقد هدم الدين.

Artinya:
Sholat adalah tiang agama, Barang siapa yang mendirikan sholat, berarti ia telah menegakkan agama. Barang siapa yang tidak mendirikan sholat maka berarti ia telah meruntuhkan agama.
• Syarat – syarat Shalat
Syarat – syarat sahnya shalat adalah sebagai berikut:
a. Suci, yaitu suci badan, tempat dan pakaian.
b. Shalat pada waktunya, karena hal ini merupakan amalan terbaik
c. Menutup Aurat. Dalam shalat, wanita muslimah harus menutup aurat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Shalatnya tidak akan sah apabila rambut, lengan, betis, dada atau lehernya terbuka.
d. Menghadap kiblat
Syarat – syarat wajib shalat adalah sebagai berikut:
a. Shalat itu tidak diwajibkan kecuali bagi orang muslim yang telah mengucapkan syahadatain.
b. Shalat itu hanya diwajibkan bagi mereka yang berakal sehat dan telah mencapai usia baligh.
c. Shalat juga diwajibkan setelah memasuki waktunya.
d. Suci dari hadats besar dan kecil.
• Rukun shalat
a. Niat, yaitu kesengajaan yang dinyatakan dalam hati untuk melakukan sholat.
b. Takbiratul ihram
c. Berdiri bagi yang mampu
d. Membaca Al- fatihah
e. Ruku dengan tuma’ninah
f. I’tidal dengan tuma’ninah
g. Sujud dua kali dengan tuma’ninah
h. Duduk di a ntara dua sujud dengan tuma’ninah
i. Membaca tasyahhud akhir
j. Duduk pada saat tasyahhud akhir
k. Membaca sholawat kepada nabi dan keluarga dalam tasyahhud akhir
l. Salam
m. Tertib
• Sunnah- sunnah sholat
a. mengangkat kedua tangan untuk takbiratul ihram
b. membuat jarak antara takbirul ihramnya makmum dan imam
c. meletakan tangan kanan di atas tangan kiri
d. memandang ke arah tempat sujud
e. membaca isti’azah(taawut)
f. membaca doa iftitah
g. membaca ٲمين
h. Membuat jarak ( berhenti sebetar ) antara dua bacaan
i. Membaca surat sesudah Al- Fatihah
j. Takbir perpindahan
k. Bacaan dalam ruku dan sujud
l. Membaca doa diantara dua sujud
m. Tasyahhud awal
2. Zakat
Zakat menurut bahasa adalah pembangan dan pensucian. Sedangkan zakat menurut istilah adalah mengeluarkan sebagain harta untuk diberikan pada yang berhak menerima zakat. Golongan orang-orang yang berhak menerima zakat ada delapan, antara lain:
a. Fakir, yaitu orang yang selalu tidak mampu memenuhi kebutuhan makan dalam sehari
b. Miskin, yaitu orang yang kurang bisa memenuhi kebutuhan tapi masih bisa mengusahakan
c. Amil, yaitu orang yang diberikan tugas untuk mengelolah zakat
d. Mu’alaf, yaitu orang yang baru masuk islam
e. Budak, yang melakukan penebusan dirinya untuk merdeka
f. Ghorim, yaitu orang yang terbebani banyak hutang melebihi jumlah hartanya
g. Sabililah, yaitu oyang yang berperang di jalan allah, meskipun kaya
h. Ibnu sabil. Yaitu orang yang kehabisan bekal selama dalam perjalanan dengan tujuan baik.
• Yang tidak berhak menerima zakat
1. Orang kaya. Rasulullah bersabda, “Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga.” (HR Bukhari).
2. Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
3. Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait) mengambil sedekah (zakat).” (HR Muslim).
4. Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
5. Orang kafir.

• Tujuan zakat
Zakat disamping sebagai rukun islam yang ke tiga juga merupakan ibadah malliyah(yang berhubungan dengan harta). Serta dapat dijadikan sebagai jalan seseorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada sang kholik, sarana untuk membangun hubungan rohani dengan Allah Swt( hablum min Allah) dan juga aspek sosial(hablum min an-nash) yang terletak pada semangat kepedulian sosial yang menjadi misi utama ibadah ini, yakni zakat diwajibkan kepada orang-orang yang memiliki harta lebih dan diperuntukkan bagi orang-orang yang membutukkan.
3. PUASA
Puasa menurut bahasa adalah menahan diri, meninggalkan ,menutup diri dari segala sesuatu,baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, dari makanan dan minuman. Secara istilah puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa pada waktu tertentu dimulai terbitnya matahari sampai terbenamnya matahari dengan syarat-syarat tertentu.
Hikmah puasa
 Dampak secara individual adalah:
a) Untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah Swt dan Muhammad Saw
b) Untuk meningkatkan ketakwaan
c) Untuk meningkatkan tingkatan kesabaran dan ketabahan
d) Untuk mengendalikan hawa nafsu
e) Untuk menumbuhkan sifat amanah dan ikhlasan beramal
f) Untuk menyucihkan hati
g) Untuk menyembuhkan penyakit hati
h) Untuk mendapatkan pengampunan.
 Dampak secara sosiologi adalah:
a) Untuk meningkatkan pengawasan nurani terhadap segalah tindakannya
b) Untuk menanamkan rasa persamaan antara si miskin dan di kaya
c) Untuk membiasakan diri berbuat baik kepada orang lain
d) Untuk menumbuhkan rasa iba terhadap orang-orang miskin
e) Untuk menumbuhkan rasa kasih sayang terhadap fakir
f) Untuk menumbuhkan jiwa yang ikhlas terhad sesame dan terhadap tuhan
g) Untuk menghilangkan sikap sombong dan menjauhi perbuatan yang keji dan perbuatan-perbuatan maksiat
• Rukun puasa
1. Menahan diri dari segalah yang membatalkan puasa
2. Berpuasa pada waktunya(bulan Romadhon)
3. Niat puasa
• Syarat-syarat puasa
 Syarat wajib puasa:
a) Islam
b) Baligh
c) Berakal
d) Mampu berpuasa
e) Muqim
f) Sehat
g) mengetahui waktunya
 Syarat sah
a. Islam (tidak murtad)
b. Mummayiz (dapat membedakan yang baik dan yang buruk)
c. Suci dari haid dan nifas
d. Mengetahui waktu yang ditentukan berpuasa

II.II Muamalah
Dari pengertianya, muamalah dibagi menjadi dua segi, pertama dari segi bahasa dan kedua dari segi istilah. Menurut bahasa muamalah mempunyai arti yang artinya saling bertindak, saling berbuat, dan saling mengamalkan. Sedangkan muamalah menurut istilah adalah dibagi menjadi dua macam, yakni pengertian muamalah dari arti luas dan pengertian mualah dari arti sempit. Pengertian muamalah dalam arti luas dijelaskan oleh beberapa ahli, diantaranya pendapat Muhammad Yusuf Musa. Beliau brpendapat bahwa muamalah adalah peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan ditaati dalah hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia. Dari beberapa sumber mengenai pengertian dalam arti luas, muamalah merupakan aturan-aturan (hukum) Allah, untuk mengatur manusia dalam kaitanya untuk mengatur kehidupan duniawi dalam pergaulan social. Pengertian muamalah dari arti sempit atau khas didefinisikan oleh beberapa ulama’, diantaranya adalah menurut Rasyid Ridlo yang mendefinisikan muamalah sebagai tukar menukar barang atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara-cara yang telah ditentukan. Dari beberapa pendapat dapat dipahami bahwa yang dimaksud fiqh muamalah dalam arti sempit adalah aturan-aturan Allah yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kaitanya dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda.
Perbedaan pengertian muamalah dalam arti sempit dengan pengertian muamalah dalam arti luas adalah dalam cakupanya. Muamalah dalam arti luas mencangkup masalah waris, misalanya , padahal masalah waris sudah diatur dalam disiplin ilmu sendiri, maka dalam muamalah pengertian sempit tidak ikut di dalamnya.
Persamaan pengertian muamalah dalam arti sempit dengan muamalah dalam arti luas ialah sama-sama mengatur hubungan antara manusia dengan manusia dalam kaitan dengan pemutaran harta.
Pembagian muamalah
Pembagian muamalah juga terdapat pebedaan pendapat antara satu ulama’ yang satu dengan ulama yang lain. Menurut Ibn ‘Abidin, fiqh Muamalah terbagi menjadi lima bagian, yaitu :
1. Mu’awadlah Maliyah (hukum kebendaan)
2. Munakabat (hukum perkawinan)
3. Muhasanat (Hukum Acara)
4. Amanat dan ‘Aryah (pinjaman)
5. Tirkah (harta peninggalan)
Ibn ‘Abidin adalah seorang yang mendefinisikan muamalah secara luas, sehingga munakabat termasuk salah satu bagian fiqh muamalah, padahal munakabat diatur dalam disiplin ilmu tersendiri, yaitu fiqh Munakahat. Demikian pula tirkat, harta peninggalan atau warisan juga termasuk bagian fiqh muamalah, padalaskhal tirkah sudah dijelaskan dalam disiplin ilmu tersendiri, yaitu Fiqh Mawaris.
Ada juga ulama lain seperti Al-Fikri yang berpendapat lain. Dalam kitabnya “al-Muamalah al-Madaniyah wa al-adabiyah” beliau menyatakan muamalah dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Al-Muamalah al-Madiyah adalah muamalah yang mengkaji objeknya,oleh karena itu sebagian ulama’ berpendapat bahwa fiqh muamalah bersifat kebendaan, karena objek fiqh muamalah adalah benda, yang halal, haram dan syubhat untuk diperjualbelikan, benda-benda yang memadaratkan dan benda yang mendatangkan kemaslahatan bagi manusia serta segi-segi yang lainya.
2. Al-Muamalah al-Adabiyah adalah muamalah yang ditinjau dari segi cara tukar menukar benda yang bersumber dari panca indra manusia, yang unsur penegaknya adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban, misalnaya; jujur, hasud, dengki, dendam.
Pembagian muamalah diatas dilakukan atas dasar kepentingan teoritis semata-mata, sebab dalam praktiknya, pembagian muamalah tersebut tidak dapat dipisahkan.
Ruang lingku muamalah sangat luas, banyak pendapat tentang itu, muamalah meliputi bidang-bidang :
1. Perkawinan (munakahat)
2. Hukum waris (muwaris dan waratsah), munakahat dan muwaris (Ahkam Al-Ahwah al-Syakhsiyah)
3. Hukum kebendaan (Al-Ahkam al-Madaniyah)
4. Sistem ekonomi dan keuangan (Al-Ahkam al-Iqtishadiyah wa al-Maliyah)
5. Peradilan perdata (Al-Mukhasamat atau Ahkam al-Murafaa’at)
6. Peradilan pidana (Al-Jinayat atau Al-Uqubat)
7. Politik pemerintahan (Al-Ahkam al-Sulthaniyyah)
8. Hubungan Internasional (Al-Ahkam a-Dauliyah)
Sebagai sistem kehidupan, Islam memberikan warna dalam setiap dimensi kehidupan manusia, tak terkecuali dunia ekonomi. Sistem Islam ini berusaha mendialektikkan nilai-nilai ekonomi dengan nilai akidah atau pun etika. Artinya, kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh manusia dibangun dengan dialektika nilai materialisme dan spiritualisme. Kegiatan ekonomi yang dilakukan tidak hanya berbasis nilai materi, akan tetapi terdapat sandaran transendental di dalamnya, sehingga akan bernilai ibadah. Selain itu, konsep dasar Islam dalam kegiatan muamalah (ekonomi) juga sangat konsen terhadap nilai-nilai humanism.
Kegiatan ekonomi merupakan salah satu dari aspek muamalah dari sistem Islam, sehingga kaidah fiqih yang digunakan dalam mengidentifikasi transaksi-transaksi ekonomi juga menggunakan kaidah fiqih muamalah. Kaidah fiqih muamalah adalah “al ashlu fil mua’malati al ibahah hatta yadullu ad daliilu ala tahrimiha” (hukum asal dalam urusan muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya). Ini berarti bahwa semua hal yang berhubungan dengan muamalah yang tidak ada ketentuan baik larangan maupun anjuran yang ada di dalam dalil Islam (Al-Qur’an maupun Al-Hadist), maka hal tersebut adalah diperbolehkan dalam Islam.
Kaidah fiqih dalam muamalah di atas memberikan arti bahwa dalam kegiatan muamalah yang notabene urusan ke-dunia-an, manusia diberikan kebebasan sebebas-bebasnya untuk melakukan apa saja yang bisa memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, sesamanya dan lingkungannya, selama hal tersebut tidak ada ketentuan yang melarangnya. Kaidah ini didasarkan pada Hadist Rasulullah yang berbunyi: “antum a’alamu bi ‘umurid dunyakum” (kamu lebih tahu atas urusan duniamu). Bahwa dalam urusan kehidupan dunia yang penuh dengan perubahan atas ruang dan waktu, Islam memberikan kebebasan mutlak kepada manusia untuk menentukan jalan hidupnya, tanpa memberikan aturan-aturan kaku yang bersifat dogmatis. Hal ini memberikan dampak bahwa Islam menjunjung tinggi asas kreativitas pada umatnya untuk bisa mengembangkan potensinya dalam mengelola kehidupan ini, khususnya berkenaan dengan fungsi manusia sebagai khalifatul-Llah fil ‘ardlh (wakil Allah di bumi).
Jadi konsep fiqh dalam muamalah bisa menjadikan kita lebih memenfaatkan apa yang ada di bumi dengan tanpa meninggalkan syari’at islam juga berlaku lebih baik sesuai syariat islam, khususnya dalam hal muamalah.

• Bidang-bidang muamalah:
1. Perkawinan (Munakahat) dan Hukum Waris
Istilah perkawinan menurut Islam disebut nikah atau ziwaj’. Kedua istilah ini dilihat dari arti katanya dalam bahasa Indonesia ada perbedaan. Sebab nikah berarti hubungan seks suami Istri sedangkan ziwaj merupakan kesepakatan antara seorang pria dan wanita yang mengikatkan diri dalam hubungan suami-istri untuk mencapai tujuan hidup dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.
Syarat dan Rukun Perkawinan:
Syarat Perkawinan :
1. Persetujuan kedua belah pihak tanpa paksaan
2. Dewasa
3. Kesamaan agama Islam
4. Tidak dalam hubungan nasab
5. Tidak ada hubungan rodhoah (sepersusu)
6. Tidak semenda (mushoharoh)
Rukun Perkawinan :
1. Calon pengantin pria dan wanita
2. Wali
3. Saksi
4. Akad Nikah

 Sistem Kewarisan dalam agama Islam
Hukum waris adalah hukum yang mengatur masalah peralihan harta dari orang yang telah meninggal kepada keluarganya yang masih hidup. Hukum waris dalam bahasa Arab disebut mawarits dan faraidh. Disebut mawarits karena mengandung arti sebagai ketentuan yang mengatur peralihan hak dan harta krekayaan yang ditinggalkan kepada seseorang ahli warisnya setelah yang bersangkutan meninggal. Kemudian hukum waris yang disebut dengan istilah faraidh karena di dalamnya terdapat bagian-bagian tertentu dari orang-orang tertentu dan dalam keadaan tertentu pula, yang wajib dibagikan kepada orang-orang tertentu.
Unsur-Unsur Waris :
• Pewaris ( Muwarits )
• Harta Waris (Mawruts)
• Ahli waris (Warits )

2. Sistem ekonomi dan Keuangan
Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan tentang prinsip-prinsip ekonomi berdasarkan Syariat Islam, seperti dijelaskan dalam Surat Lukman (31):20
  •           •       
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.

         •                                 
Artinya : Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.
Dari kedua surat diatas menunjukan bahwa Alam merupakan karunia Allah yang diperuntukkan bagi umat manusia. Oleh karena itu, alangkan indahnya dunia ini jika manusia memanfaatkan apa yang ada di bumi dengan Sesutu kebaikan.

3. Prinsip-prinsip ekonomi Islam
 Larangan berlaku boros
 Dari satu segi islam melarang peborosan, tapi dari segi lain islam melarang sifat bakhil
 (QS Al-Furqan (25) : 67)
 Perintah menyantuni orang-orang miskin
 Dari satu segi islam memerintahkan orang kaya untuk menyantuni norang miskin. Tapi dari segi lain, islam melarang orang islam memerintahkan kepada orang miskin untuk tidak mempertahankan status quo-nya sebagai orang miskin. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’arij (70) : 24-25.
     •    
 Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)
 Antara mencari keutungan dan beramal soleh
Menurit Islam, islam membenarkan orang untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, tapi pada waktu yang sama islam memerintahkan agar harta berfungsi social.
Berdasarkan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa sistem ekonomi Islam mencangkup beberapa hal, diantaranya :
1. Merupakan harmoni atau keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat.
2. Perlu suatu organisasi untuk mengatur keseimbangan antara hak-hak individu dan masyarakat.
3. Menciptakan keseimbangan atau sintesa antara sistem ekonomi kapitalis dan dan sistem ekonomi social.
4. Memadukan hal-hal yang positif dari sistem ekonomi yang kapitalis dan hal-hal yang positif dari sistem ekonomi social.

 Transaksi dalam system ekonomi Islam
1. Jual Beli
Al-Bai’ (Jual Beli) secara bahasa adalah masdar dari ba’a yang berarti tukar menukar harta dengan harta atau membayah harga dan mendapatkan barangnya. Adapun pengertian jual beli menurut istilah adalah akad tukar menukar harat (barang) yang mengharuskan kepemilikan atas benda atau manfaat untuk selamanya, bukan sebagai taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah).
Rukun Jual Beli dan Syarat
Rukun Jual Beli
1. Shighat (ucapan ijab qobul)
2. Dua orang yang bertransaksi
3. Objek akad, yaitu harga dan barang
Syarat Jual Beli
 Kerelaan dari penjual dan pembeli
 Penjual dan pembeli adalah orang yang merdeka
 Barang yang diperjualbelikan adalah barang yang diperbolehkan atau bermanfaat
 Barang yang diperjualbelikan adalah barang milik sendiri atau barang yang doperbolehkan untuk dijual
 Barang yang diperjualbelikan bias diketahui lewat sifatnya atau menyaksikanya
 Harganya harus sudah jelas
 Barang yang diperjualbelikan bias diserahterimakan.

2. Sewa menyewa dan upah-mengupah
Ijarah baik dalam bentuk sewa menyewa maupun dalam bentuk upah mengupah, merupakan bentuk muamalah yang dibenarkan. Ijarah merpakan menuukar sesuatu dengan ada imbalan. Dasar-dasar hokum atau rujukan adalah Al-Qur’an, al-sunah dan ijma’.
Rukun dan Syarat :
 Mu’jir dan Mustafir (orang yang melakukan akad sewa menyewa)
 Shighat (ijab qobub antar Mu’jir dan Mustafir)
 Syarat diketahui oleh kedua belah fihak.
 Barang yang disewakan memenuhi prasyarat barang yang disewakan.
Masih banyak lagi contoh-contoh transaksi dalam perekonomian islam seperti pinjam-meminjam, utang-piutang, agunan, pemberian, wakaf, dan wasiat.

4. Sistem peradilan islam
Berlakunya hukum islam di indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ketaatan umat islam di negeri ini. Menurut Daud Ali, sebelum UUD 1945 berlaku, hukum islam yang berlaku di Indonesia terdiri dari :
1. Hukum islam yang berlaku normatif, yakni hukum islam yang berlaku secara efektif, namun sangsi hukumanya sangat bergantung pada umat islam sendiri. Hukum islam yang berlaku normatif contohnya adalah pelaksanaan rukun islam, sholat, zakat, puasa, haji. Yang dalam pelaksanaanya tidak memerlukan bantuan pemerintah,
2. Hukum islam yang berlaku secara yuridis, yakni hukum islam yang mengatur hubungan hukum antar manusia, dan antar manusia dengan benda. Hukum islam dalam hal ini berlaku berdasarkan aturan undang-undang seperti perkawinan dan waris.
Untuk menegakkan hukum islam, didirikan peradilan agama yang mempunyai tugas dan wewenang, diantaranya adalah memeriksa, memutuskan dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama islam di bidang : (1) perkawinan, (2) kewarisan, wasiat, wakaf, sedekah dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum islam.

5. Hukum pidana Islam (Jinayah)
Secara etimologi jinayah berarti perbuatan terlarang. Jinayah atau jarimah adalah perbuatan yang mengancam poerbuatan jiwa. Adanya ancaman hukuman atas tindakan kejahatan adalah untuk melindungi manusia dari kebinasaan terhadap lima hal yang mutlak, yaitu agama, jiwa,akal, harta dan keturunan. Seperti ketetapan Allah dalam hukuman mati dalam tindakan pembunuhan, tujuanya tidak lain adalah agar jiwa manusia terjamin dari pembunuhan.

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Ibadah adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh kerdlaan Allah Swt dan mendapatkan pahala darinya di akhirat. Aplikasi ibadah dalam kehidupan kita sehari-hari misalnya adalah, zakat, sholat ,puasa dan haji
Konsep fiqh tentang ibadah

.
Muamalah merupakan aturan-aturan Allah yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kaitanya dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda.
Muamalah terbagi menjadi beberapa bidang,diantarany adalah Perkawinan (munakahat), Hukum waris (muwaris dan waratsah), munakahat dan muwaris (Ahkam Al-Ahwah al-Syakhsiyah), Hukum kebendaan (Al-Ahkam al-Madaniyah), Sistem ekonomi dan keuangan (Al-Ahkam al-Iqtishadiyah wa al-Maliyah), Peradilan perdata (Al-Mukhasamat atau Ahkam al-Murafaa’at), Peradilan pidana (Al-Jinayat atau Al-Uqubat), Politik pemerintahan (Al-Ahkam al-Sulthaniyyah), dan Hubungan Internasional (Al-Ahkam a-Dauliyah).
Adapun konsep fiqh tentang ibadah bahwasanya islam memberikan kesempatan kepada umat islam untuk berkreasi dalam lingkungan sosialnya tapi dengan syarat mereka tetap berpedoman dengan Al-Qur’an dan hadits.

III.II Saran
Kami selaku pembuat makalah sangat menyadari jika dalam pembuatan makalah ini sangatlah jauh dari kesempurnaan, itu semua karena kterbatasan referensi yang kita miliki, kami harapkan dosen mau memberikan tambahan dari materi yang disampaikan dalam makalah ini. Kami sampaikan terimakasih.

Daftar Pustaka

Suhendi,Hendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada),hal 117-118
Hasan Saleh, Kajian Fiqh Nabawi dan Fiqh Kontemporer, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada),hal-415

Santri Diniyah mu’allimin mu’allimat Darut Taqwa.fiqih galak galak gampil edisi revis. hal 104
Syaikh kamil Muhammad uwaidah. Fiqih wanita hal.
id.wikipedia.org/wiki/Puasa_dalam_Islam

About lailintittut

q gak gampang putus asa...

Posted on Juni 29, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: