Abdurrahman Wachid

BAB 1
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Pada umumnya kaum muslimin di manapun mengakui bahwa ajaran islam bersumber pada Al-Qur’an dan sunah Nabi. Kedua sumber ini bisa dikatakan bersifat transenden, dalam artian dapat mengatasi segala ruang dan waktu. Tetapi untuk memahami agama tidak cukup hanya dengan memahami sumber-sumber ajaranya saja, karena betapapun sumber ajaranya satu dan transenden, ajaran itu akan senantiasa mengalami proses aktualisasi kedalam realitas sosial penganutnya. Aktualisasi ini satidaknya akan dipengaruhi oleh kecenderungan corak pemahaman dan penafsiran terhadap doktrin.
Hal yang sulit dihindari dalam dinamika pemikira keagama adalah ketegangan-ketegangan dan bahkan konflik yang muncul mengiringi perkembangan pemikiran itu. Disatu pihak ketegangan itu muncul oleh oleh suatu keharusan mempertahankan segi doktrin norma agama dalam situasi dunia yang selalu berubah, sementara di pihak lain ketegangan lahir oleh proses sosiologi. Meskipun demikian, kehadiran suatu gagasan keagamaan sering memberi dasar bagi proses sosial, setelah terlebih dahulu gagasan itu teruji. Di Indonesia, ketegangan itu terlihat dari polarisasi visi yang dikedepankan kaum tradisional, modernis dan fundamentalis.
Tradionalisme islam dipelopori ulama’ yang mendirikan pesantren sebagai basis penyebaran paham-paham keagamaan. Sementara itu lahirlah modernisme islam yang merupakan gerakan pembaharuan atas kemapanan aliran tradisionalisme yang terlebih dahulu mengakar dalam masyarakat, meskipun institusional lahir lebih belakang. Basis modernisme islam pada umumnya berada di perkotaan yang masyarakatnya cenderung lebih terbuka dan menerima gagasan baru. Basis fundamentalis islam adalah kelompok menengah perkotaan dan umumnya mereka terdidik secara formal.
Sejak abad ke-19, dan dipenghujung abad ke-20 serta abad ke-21 ini, pemikiran-pemikiran muslim sedang bergelut kuat untuk menemukam jati diri pemikiranya, agar bisa memanfaatkan ide-ide sebagai akibat modernisasi berpikir radikal yang diterapkan Barat. Modernisme islam dipelopori oleh sejumlah tokoh yang dimatangkan oleh Madjid, Munawir Syadzali, Abdurrahman Wahid, Dewan Raharjo dan masih banyak lagi.
Disini akan dikelupas tentang pemikiran Abdurrahman Wahid yang mana beliau adalah tokoh modernis yang terkenal.

B. Rumusan Masalah
1. Siapa Abdurrahman Wahid itu?
2. Apa saja ide-ide pembaharuan Islam dari Abdurrhman Wahid?

C. Tujuan
1. Mengetahui tentang Abdurrahman Wahid
2. Mengetahui ide-ide pembaharuan dari Abdurrahman Wahid.

BAB II
Pembahasan

A. Riwayat Hidup

Abdurrahman Wahid atau populer dan lebih akrabnya dengan sebutan Gus Dur, adalah putra Wachid Hasjim, mantan mentri Agama RI pertama semasa Bung Karno dan cucu pendiri NU yakni K.H Hasyim Asy’ari. Ia dilahirkan pada tahun 1940. Putra Jombang ini merupakan keturunan kian dalam segala karakteristiknya, yaitu merupakan symbol kekiaian tradisional. Gus Dur dengan ciri khasnya bercelana panjang dan baju batik, kupiah ( songkok nasional ) hitam, dan yang khas kacamata tebal. Orang tidak akan mengira kalau dibalik kesederhanaanya itu muncul sesuatu yang mengejutkan, kalau ia bicara tetang umat islam Indonesia, yang oleh para kyai NU disebut nyleneh. Kenylenehan dan kekontrovertsian Gus Dur itu masih berlangsung sampai saat beliau menjabat sebagai presiden hasil pemilihan umum tahun 1999.

Ayahnya juga merupakan seorang penandatangan piagam Jakarta. Dari garis ibunya ia
Mewarisi darah K.H. Bisyri Samsuri yang pernah juga menjadi Rais Syuriyah. Setelah memamatkan sekolah rakyat, Gus Dur meneruskan ke SMEP di Yogyakarta sambil belajar di pesantren Krapyak. Semasa ini ia telah banyak membaca buku-buku barat, seperti What is to be done? Karya Lenin dan Das Capital karya monumental Karl Maxl. Sebagai anak keluarga besar pesantren ia juga banyak mengenyam pendidikan pesantren di beberapa tempat. Ia pernah di didik di pesantren Telagrejo Magelang selama tiga tahun sejak 1956 dan dibawah pengawasan langsung K.H Chudlori. Lalu melanjutkan ke pesantren Tambak Beras Jombng selama empat tahun di bawah bimbingan K.H Wahab Hasbullah.
Tahun 1964-1966 ia melanjutkan studynya di Universitas Al-Azhar Cairo pada Departemen of Higher Islamic and Arabic Studies, namun ia tak sempat seeai karena suasana yang kurang kondusif, sehingga praktis selama dua tahun banyak menghabiskan waktumya di Perpustakaaan Nasional Mesir serta perpustakaan kedutaan Amerika dan Prancis, disamping itu ia juga aktif dalam berbagai forum kajian. Ia juga mengadakan konyak dengan sejumlah cendekiawan Mesir terkemuka misalnya Zakki Naguib Mahmoud, Soheir Al-Qalamawi, dan Syauqi Deif. Selepas dari Cairo ia pindah ke Universitas Baghdad dan masuk pada fakultas sastra pada tahun 1970. Beberapa waktu kemudian ia pulang ke Jombang.
Pergaulan yang sangat luas dan bacaan yang sangat banyak membuat Gus Dur mempunyai wawasan intelektualitas sangat luas. Greg Berton menilai Gus Dur sebagai salah seorang pemikir Islam liberal di Indonesia. Menurut Fachry Ali, Gus Dur dalam batas-batas tertentu adalah agamawan dan pemikir yang paling liberal di Indonesia yang menurutnya belum tertandingi oleh Nurcholis Majid sekalipun. Cara berpikirnya yang sangat liberal itulah yang membuat Gus Dur kadang-kadang seperti tidak terkendali dan bahkan bagi kalangan tertentu Gus Dur dinilai nyleneh.
Di kota kelahiranya ini Abdurrahman aktif mengajar. Antara tahun 1971-1974 ia menjabat Dekan Fakultas Usluhuddin Universitas Hasyim Asy’ari dan lima tahun berikutnya menjadi sekretaris pesantren Tebuireng Jombang. Baru tahun 1979 ia pindah ke Jakarta dan segera dapat dengan alam metropolis. Ia dikenal akrab dengan berbagai kalangan karena kepribadianya dan gagasan-gagasanya yang segar sehingga cepat memperoleh popularitas, karenanya tahun 1983-1985 ia terpilih menjadi Dewan kesenian Jakarta. Di antara sikap yang paling menonjol dari sosok Abdurrahmabn sebagai pemimpin umat adalah bagaimana sikapnya terhadap tokoh-tokoh lain, dia begitu bersahabat, tidak menganggap mereka sebagai musuh.
Gus Dur bisa diteriman oleh kalangan tentara, kalangan petinggi negara, kalangan politis, kalangan kelimpok-kelompok umat beragama, kalangan intelektual, kalangan sastrawan, budayawn dan berbagai kalangan lapisan masyarakat. Gus Dur lentur bagaikan janur, bisa meliuk kesana kesini, akan tetapi tentunya Gus Dur mempunyai prinsip. Bagi Gus Dur prinsip adalah tetap, akan tetapi strategi dalam pelaksaana tadi bisa berubah.
Pada muktamar NU di Situbondo tahun 1984, bersama dengan K.H Achmad Shiddiq, terpilih masing-masing sebagai ketua Tanfidziyah dan Syuriyah PBNU. Posisi ini bertahan sampai dipilih kembali pada muktamar di Yogyakarta tahun 1989. Sampai dengan Muktamar di Cipasung tahun 1994 lalu, kedudukan Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ) masih kuat dan tetap dipercaya memimpin organisasi islam terbesar ini bersama K.H Ilyas Ruchiyat. Diluar NU ia aktif di forum demokrasi dan forum-forum lainya. Di tingkat Internanasional ia adalah salah seorang ketua WCRP ( Worpinld Conference for huReligion and Peace ), disamping pernah menerima penghargaan Ramon Magsaysay pada tahun 1993.
Pemerintah dan ABRI membantah adanya kemungkinn upaya menggusur Gus Dur sebagai ketua PBNU. Pernyataan pemerintah dan ABRI tersebut disampaikan secara terpisah oleh Mendagri Yogri SM di Depdagri dan Panglima ABRI jendral TNI Feisal Tandjung dalam jumpa pers khusus yang dihadiri lebih dari 100 wartawan di ruang Komisi 1 DPR, Selasa ( 2 Juli 1996 ). Gus Dur yang dimintai tanggapan soal isu adanya rencana penggusuran dirinya dari ketua umum PBNU mengatakan bahwa kabar tersebut hanyalan isu yang tidak perlu ditanggapi.
Selama masa kepemimpinan di NU (tiga periode), banyak kronik, dinamika, dan gebrakan sosial-keagamaan yang sebelumnya masih asing dan bahkan dianggap “tabu” dikalangan NU. Seperti diketahui, NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang mempunyai karakter tradisional baik dalam pemahaman keagamaan keagamaanya maupun dalam praktiknya. Citra demikian sudah menjadi karakter khas jami’iyah ini. NU ditangan Gus Dur saat itu sudah mengalami transformasi “Revolusioner” dalam semua dimensi pemahaman dan sebagai praktik keagamaan tradisional itu.

B. Ide Pemikiran
Seperti halnya banyak ulama’ tradisional di Indonesia, Abdurrahman banyak berbicara daripada menulis. Dan tidak sebagaimana sarjana yang dididik di Universitas di Barat, Abdurrahman tidak menulis biograf panjang, tapi memanfaatkan artikel-artikel pendek dan wawancara di media massa populer untuk menyampaikan pesan-pesanya. Ia beberapa kali memberikan kata pengantar ringkas terhadap karya-karya mngenai NU dan Teologi Islam, yang dapat dipandang sebagai dukungan resmi terhadap karya yang bersangkutan. Dan sebagaimana para intelektual para pengikut mahdzab Syafi’i lainya, Abdurrahaman Wahid tidak banyak menulis, ia berbicara daripada menukis.
Beberapa pemikiran Gus Dur dapat dilihat di beberapa buku yang merupakan kumpulan makalah seminar dan ceramah-ceramahnya, misalnya; Muslim di tengah Pergulatan yang diterbitkan oleh Leppenas tahun 1983, Bunga Rampai pesantren yang diterbitkan CV Dharma Bhakti tahun 1979, dan masih banyak lagi yang berupa kumpulan makalah bersama penulis lain. Bentuk yang terakhir ini misalnya; Islam Indonesia Menatap Masa Depan yang diterbitkan oleh P3M tahun 1989. Dan masih banyak lagi yang lain ditambah dengan tulisan-tulisannya yang tersebar diberbagai mass media.
Bagi Gus Dur, tidak ada kewajiban bagi umat Islam untuk mendirikan
sebuah “Negara Islam”. Tetapi, ada perintah dalam Al Quran untuk
membentuk suatu masyarakat yang mengacu kepada nilai-nilai keutamaan
(viruies) yang menjalankan amar makruf (membangun kebaikan) dan
mencegah keburukan, nahi mungkar, untuk menegakkan iman dan keadilan di
muka bumi. Karena itu, maka Islam jangan direduksi menjadi negara
Islam, melainkan dikembalikan sebagai agama.
Dengan demikian, maka pembaruan Gus Dur adalah mempertegas perspektif
gerakan kultural dan gerakan kemasyarakatan, yang sekarang lebih
popular dengan sebutan membangun civil society yang bersifat
komplementer dan mendukung sebuah negara Pancasila yang telah dimulai
oleh para Bapak Pendiri Bangsa (founding fathers). Itulah kurang lebih
gambaran Gus Dur tentang “Islamku” dan juga “Islam Anda” dan
semoga juga “Islam Kita”.
Ada beberapa pemikiran Gus Dur yang dianggap maju, baru dan orisinil tentang umat dan nilai islam di Indonesia, ide-idenya diantaranya sebagai berikut.
Umat islam Indonesia tidak hanya sekedar orang Indonesia, tapi juga mendunia, refleksi wujud toleransi sungguh sangat luar biasa, bahkan mengalahkan sikap-sikao toleransi yang selama ini tidak pernah ada, tplak bandimhnya bagi seorang muslim Begitu juga keteguhan pendirian dan sikap demokrasinya yang amat ting-gi terhadap perbedaan paham, keagamaan dan sebagainya.
Douglas E.Ramage, melukiskan bahwa sosok gus Dur merupakan seprang pan-casilais sejati dan amat murni dalam membela dan mempertahankan nilai ke-pentingan pancasila.
Dalam konteks agenda-agenda untuk mempertimbangkan situasi lokal dan setempat, Gus Dus menyuarakan gagasan tentang, islam sebagai faktor komplementer dalam kehidupan sosio kultural dan politik Indonesia dan pribumisasi islam.
Dimensi pertama gagasanya adalah seruan kepada rekan-rekanya sesama muslim untuk tidak menjadikan islam suatu ideologi alternatif terhadap konstruk negara bangsa Indone¬sia yang ada sekarang. Dalam pandanganya sebagai satu komponen penting dari struktur sosial Indonesia, islam tidak boleh menempatkan dirinya dalam posisi yang bersaing, via a vis komponen-komponen lainya. Namun islam harus ditampilkan sebagai unsur kom¬plementer dalam formasi tatanan sosial, kultural dan politik negara ini terutama karena corak sosial, kultural dan masyarakat politik kepulauan nusantara yang beragama. Oleh sebab itu, upaya menjadikan islam sebagai ideologi alternatif atau pemberi warna langit “hanya akan membawa perpecahan kepada masyarakat secara keseluruhan.
Meskipun demikian, tidak berarti Gus Dur menentang peran islam dalam negara. Dalam hal ini kepedulian utamanya sebenarnya adalah kesaman hak dan kewajiban diantara seluruh kelompok sosial politik yang ada di Indonesia dalam pandangannya, dengan pancasil sebagai kompromi ideologis masing-masing mengelompokkan sosial keagamaan (yakni islam, protestan, katolik, hindu, dan buda) mempunyai hak yang sama untuk memberikan sumbangan nilai-nilai mereka kepada negara bangsa indonesia. Karenanya, terlepas dari penekanannya bahwa islam tidak boleh menjadi “pemberi warna tunggal” , ia percaya bahwa kaum Muslim memiliki hak yang sama dalam memengaruhi arah perjalanan bangsa ini sesuai dengan ajaran-ajaran agama mereka. Ia menyatakan “Kini (setelah menerima sebagai ideologi nasional kita), harus ada langkah lanjut apa yang harus di perbuat NU dengan negara ini dan bahwa negara harus dilengkapi dengan visi-visi Islam. Ini hak kita, sebagai orang lain juga punya hak yang sama untuk mengisi negara dengan visi misi mereka.
Aspek kedua dalam gagasan Gus Dur adalah mengenai perlunya kaum mengingatkan kaum muslimin untuk mempertimbangkan situasi sosial lokal dalam dalam rangka penerapan ajaran-ajaran islam. Dengan demikian diharapkan bahwa islam Indonesia tidak tercerabut dari konteks lokalnya sendiri, yakni kebudayaan, tradisi dan lainya. Ketika menjelaskan apa yang dimaksudkan dngan pribumisasi islam, ia menulis pribumisasa islam bukanlah jawanisasi atau sinkritisme, sebab pribumisasi islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal Indonesia di dalam merumuskan hukum-hukum agama tanpa merubah hukum itu sendiri. Juga bikan meninggalkan norma-norma keagamaan demi budaya, tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhan dari budaya dengan menggunakan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman nash (Al-Qur’an).
Untuk lebih memperjelas apa yang dimaksudkanya dalam konsep itu, ia menggambarkan islam sebagai suatu sungai besar dan kekhasan-kekhasan sosio-kultural Indonesia sebagai anak sungai itu. Keduanya harus bertemu untuk membentuk sungai yang lebih besar lagi. Masuknya anak sungai tersebut mau tidak mau akan membawa air baru yang pada saatnya akan mengubah atau mungkin juga mencemarkan warna air aslinya. Lepas dari itu, sungai itu bagaimanapun juga tetaplah sungai yang sama dengan air lama yang juga sama. Dalam kata-kata Gus Dur sendiri: “Pribumisasi islam merupakan bagian dari sejarah islam… ilustrasi diatas menunjukan bahwa proses interaksi islam dengan realitas-realitas historis tidak akan mengubah islam itu sendiri. Melainkan hanya akan mengubah manifestasi agama islam dalam kehidupan.
Tentang pola pemikiran Abdurrahman, kiranya dapat ditelusuri sejak tahun 1970-an. Pada periode awal ini banyak mencurahkan terhadap dunia pesantren yang memang digelutinya secara langsung. Ia telah menulis sejumlah artikel dan bagian-bagian terpentingnya dipublikasikan dalam buku Bunga Rampai Pesantren (1978). Disamping ia memperkenalkan kepada orang luar perihal kekuatan yang ada di pesantren, misalnya etos percaya diri dan gaya hidup saderhana. Abdurrahma mengingatkan kepada orang dalam bahwa pesantren kini berada di persimpangan jalan, bahkan dalam ambang kemerdekaan.Hal itu disebabkan karena imbas modernitas di satu sisi dan sisi lain karena kurang terakomodasikanya tuntutan-tuntutan masyarakat yang mengalami perubahab secara cepat. Maka tidak ada jalan lain menurutnya selain dinamisasi, yaitu usaha membangkitlkan kualitas secara progresif yang memungkinkan islam secara relefan dapat diterima. Yang dapat dicatat disini bahwa dalam awal tahap ini Abdurrahman telah menempatkan dirinya sebagai penyambung budaya yaitu membawa sub-kultural(pesantren) ke perbincangan multi-kultural (modernitas), seolah dia mendialogkan keduanya. Dengan cara ini ia berharap orang-orang pesantren dapat mencari jalan keluar sendiri dalam menangani tantangan modernitas.
Pemikiran pembaruan Gus Dur terdiversifikasi dalam berbagai bidang, tetapi secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut;
a. Pluralisme
Menurut Gus Dur berdirinya negara Indonesia ini, lebih disebabkan oleh adanya kesadaran berbangsa daripada faktor ideologi Islam, dan inilah kenyataan yang harus diterima secara obyektif. Pandangan ini dikemukakan karena Gus Dur melihat bahwa kondisi obyektif ini belum dipahami secara tuntas oleh sebagian kalangan pergerakan Islam di Indonesia. Karena itulah, dia berpendapat bahwa ajaran Islam lebih baik ditempatkan sebagai komponen yang membentuk dan mengisi kehidupan bermasyarakat warga negara kita. Fungsi ini disebut dengan komplementer.
Gus Dur dalam hal ini tampaknya mencari jalan keluar dari pergumulan antara doktrin-doktrin Islam dan umatnya. Dengan memakai pola pemikiran neomodernisme, dia mencari penyelesaian dengan kembali pada jalan pemikiran tradisionalis Islam yang lunak dan lentur sebagai basis usaha-usaha penyelesaian di masa kini dan masa depan. Dari pendapat ini, maka jelas Gus Dur menolak sifat mutlak-mutlakan. Dengan demikian, maka sesungguhnya Gus Dur lebih mencari jalan tengah atau pola pemikiran wasat}an. Pemikiran inilah yang sampai sekarang secara konsisten diperjuangkan.
Pendekatan yang digunakan Gus Dur dalam usaha menampilkan citra Islam ke dalam kehidupan kemasyarakatan adalah pendekatan sosio-kultural. Pendekatan ini mengutamakan sikap mengembangkan pandangan dan perangkat kultural yang dilengkapi oleh upaya membangun sistem kemasyarakatan yang sesuai dengan wawasan budaya yang ingin dicapai itu. Pendekatan ini lebih mementingkan aktifitas budaya dalam konteks pengembangan lembaga-lembaga yang dapat mendorong transformasi sistem sosial secara evolutif dan gradual. Pendekatan seperti ini dapat mempermudah masuknya ‘agenda Islam’ ke dalam ‘agenda nasional’ bangsa secara inklusifistik .
Menurut Din Syamsudin, pemikiran Gus Dur sebagaimana diuraikan di atas lebih tepat sebagai pemikiran yang bersifat substantivistik. Menurutnya, dengan pendekatan substantivistik dalam islamisasi Indonesia membuka ruang bagi terjadinya pribumisasi Islam (domestication of Islam), usaha mewujudkan nilai-nilai universal Islam ke dalam kultur bangsa Indonesia yang beragam. Dalam konteks ini pula kultur Islam harus dipandang hanya sebagai salah satu dari sekian banyak kultur bangsa. Ia hanya bersifat komplementer terhadap kultur Indonesia secara keseluruhan. Dengan pemikiran ini diharapkan masyarakat muslim mempunyai kesadaran kebangsaan, termasuk bahwa negara Indonesia harus dibangun atas dasar kesadaran ini. Implikasi dari implementasi pemikiran Gus Dur ini adalah adanya pluralisme.
b. Universalisme dan Kosmopolitanisme Islam
Gus Dur, dalam salah satu ceramahnya di Yayasan Wakaf Paramadina menawarkan ide tentang universalisme dan kosmopolitanisme peradaban Islam. Universalisme Islam itu ditunjukkan dalam ajaran kepedulian kepada unsur-unsur utama kemanusiaan yang diimbangi oleh kearifan yang muncul dari keterbukaan peradaban Islam sendiri. Menurut dia, salah satu yang dengan sempurna menampilkan universialisme Islam adalah lima buah jaminan dasar yang diberikan Islam, baik kepada perorangan maupun kelompok. Kelima jaminan dasar ialah (1) keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum; (2) keselamatan keyakinan agama masing-masing tanpa ada paksaan untuk berpindah agama; (3) keselamatan keluarga dan keturunan; (4) keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum; dan (5) keselamatan profesi.
Kelima unsur hak-hak asasi manusia itu, menurut Abdurrahaman Wahid, tidak otomatis menjamin keselamatan umat manusia kalau tidak didukung kosmopolitanisme peradaban umat Islam. Kosmopolitanisme peradaban Islam itu muncul dalam sejumlah unsur dominan, misalnya hilangnya batasan etnis, kuatnya pluralitas budaya dan heterogenitas politik, bahkan kosmopolitanisme Islam menampakkan diri dalam watak yang menakjubkan, yaitu kehidupan beragama yang eklektis berabad-abad. Hal ini antara lain tercermin dalam perdebatan-perdebatan sengit selama empat abad pertama sejarah Islam di bidang teologi dan hukum agama yang di dalamnya perbedaan pendapat tetap memperoleh tempat yang semestinya.
Gus Dur mengatakan, kosmopolitanisme peradaban Islam mencapai titik optimalnya jika tercapai keseimbangan antara kecenderungan normatif kaum muslimin dan kebebasan berpikir semua warga masyarakat, termasuk mereka yang non muslim. Gus Dur menyebut situasi seperti itu sebagai kosmopolitanisme yang kreatif, yang memungkinkan pencarian sisi-sisi paling tidak masuk akal dari kebenaran yang ingin dicari dan ditemukan.
Menururt Gus Dur, universalisme ajaran Islam meliputi beberapa soal: toleransi, keterbukaan sikap, kepedulian pada unsur-unsur utama kemanusiaan, dan keprihatinan secara arif terhadap keterbelakangan kaum muslimin sehingga akan muncul tenaga luar biasa untuk membuka belenggu kebodohan dan kemiskinan yang mencekam kehidupan mayoritas kaum muslimin dewasa ini. Dari proses universalisme Islam diharapkan akan muncul kosmopolitanisme baru yang bersama-sama dengan paham dan ideologi lain membebaskan manusia dari ketidakadilan struktur sosial ekonomi dan kebiadaban rezim-rezim politik yang lazim. Hanya dengan menampilkan universalisme baru dalam ajaran Islam dan kosmopolitanisme baru dalam sikap hidup para pemeluknya Islam mampu memberikan perangkat sumber daya manusia. Mereka itu diperlukan oleh si miskin untuk memperbaiki nasib sendiri secara berarti dan mendasar melalui penciptaan etika sosial baru yang penuh dengan semangat solidaritas sosial dan jiwa transformatif yang prihatin dengan nasib orang kecil.
Dengan gagasan universalisme Islam dan kosmopolitanisme Islam seperti yang diuraikan di atas, maka Gus Dur menolak pendekatan yang bersifat legalistik-formalistik, skripturalistik ataupun alternatif pandangan dunia (worldview) yang serba apologis. Menurut Gus Dur, pendekatan seperti itu tidak dapat diharap banyak untuk menyelesaikan masalah. Dalam memecahkan masalah kemiskinan misalnya, pendekatan semacam itu tentu hanya akan bermuara pada upaya dakwah semata-mata, dalam pengertian bagaimana memperkuat iman dan bukan sebaliknya bagaimana mempersepsi iman yang dapat menggugah agar masalah kemiskinan dapat dipecahkan secara adil. Gus Dur melihat bahwa masalah kemiskinan seperti di Indonesia hanya dapat dipecahkan melalui upaya transformasitif secara makro, yakni dengan menegakkan demokrasi yang murni, mengembangkan lembaga kemasyarakatan yang adil di semua bidang, dan menolak ketidakadilan dalam segala bentuknya. Islam tidak bisa memisahkan diri dari perjuangan makro itu, dan sikap mengabaikan hal ini berarti menyimpang dari ajaran Islam sendiri dan mengkhianati aspirasi Islam dalam arti penuh.
Sebagai salah seorang pemimpin ormas islam, Abdurrahman menggambarkan tugas utamanya sebagai salah seorang pemelihara umat, meskipun umat juga menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun begitu ia mengkritik pemerintah yang memberi keuntungan terlalu banyak untuk umat islam. Pemerintah harus tetap bertindak adil dan proporsional dalam menangani hak-hak semua agama. Ia mewaspadai gerakan pemerintah yang meminta legitimasi dari massa islam.
Apa yang diuraikan menggambarkan bahwa Abdurrahman adalah: pertama sosok yang telah mengalami pematangan dalam alam tradisionalisme dan modernisme sekaligus yang membuatnya mampu berbuat kritis atas keduanya. Kedua, ia adalah pemikir dan praktisi sekaligus, yang membuatnya seimbang dalam pengembangan ide dan realisasinya dalam masyarakat. Ketiga, ia adalah orang yang selalu terlibat dalam diskursus keIndonesiaan kontemporer. Berdasarkan poin-poin itu dapat disimpulkan bahwa kehadiranya kehadiranya sangat beralasan jika disebut sebagai salah seorang tokoh neo-modernis islam di Indonesia.
Juga dapat dibuat pohon pemikiran Abdurrahman Wahid, yakni:
1. Tentang Ideologi
Pemikiran Gus Duir tentang ideologi muncul secara kontroversial menjelang pengangsastunggalan Pancasila. Ideologi dilaetakan pada neraca penilaian yang sangat pragmatis dan tidak terlalu diagungkan sebagai benda suci, meskipun tetap dipandangnya sangat sentral dalam kehidupan berbsa dan bernegara. Baginya fungsi utama ideologi adalah sebagai faktor pemersatu bangsa serta pemberi arah bagi penyelenggaraan pemerintahan negara. Penggunaan ideologi untuk penggunaan yang lebih sempit dan penggunaan fungsi tersebut, misalnya sebagai landasan legitimas bagi otoritisme suatu regim terhadap masyarakat, hanya akan mendorong kehancuran ideologi itu. Pragmatisem dalam menilai ideologi ini akan membuat orang gagal menemukan alasan yang muluk-muluk dari Gus Dur tentang penerimaan NU terhadap pancasila sebagai asas tunggal. Pragmatisme inilah yang juga melandasi pola pemikiran Gus Dur.
Gus Dur mencoba menempatkan Pancasila dalam predisposisi ini. Ia berpendapat bahwa berbagai ideologi universal yang masing-masing memiliki pandangan berbeda mengenei berbagai hal termasuk kemasyarakatan, perekonomian,dan lain-lain telah masuk ke Indonesia sejak masa sebelum kemerdakaan. Olehny ideologi-ideologi dapat dibagi menjadi dua kategori umum, yakni ideologi sekuler dan ideologi yang teokratis. Ideologi sekuler menghendaki agar agama tidak turut menjadi faktor penentu dalam kehidupan kenegaraan, sehingga negara harus netral dalam soal agamadan agama dipandang semata-mata sebagai urusan pribadi setiap individu. Nasionalisme, sosialisme, kapitalisme dan komunisme masuk dalam kelompok ideologi sekuler ini. Ideologi dalam kategori kedua menginginkan agar agama (dalam kasus di Indonesia agama Islam) menjadi kekuatan penentu utama dalam kehidupan bernegara, sehingga terbentuk negara teokratis. Jadi negara turut bertang gungjawab atas terlaksananya syariat agama dalam sepek kehidupan individu. Kalau setelah kemerdekaan masih saja perdebatan ideologi, Gus Dur menilai bahwa hal ini disebabkan karena pengikut ideologi universal itu masih tetap barada pada kerangka acuanya semula dan masih terkotak-kotak dalam pemahaman ideologisnya masing-masing. Dengan pemahaman ini, maka Akan tetapi Gus Dur justru mengkritiknya sebagai indoktrinasi massif berupa penataran P-4 yang dilaksanakan sangat dramatis serta penetapan asas tunggal pancasila bagi semua ormas dan parpol mestinya sebagai upaya untuk sama sekali mengakhiri pemahaman ideologis yang terkotak-kotakn itu. Akan tetapi Gus Dur justru mengkritiknya sebagai proses ideologisasi di Indonesia kini, yang dinilainya menampilkan dua sisi berbeda dan bahkan saling bertolak belakang. Terjadinya kecenderungan ini ninilai telah membuat artikulasi proses ideologisasi itu kehilangan makna, sehingga yang tersisa tinggal proses idiologisasi sebagai pemberi legitimasi kepada sisitem pemerintahan yang ada. Artinya, ideologi akhirnya hanya berfungsi sebagai justifikasi kebijakan para pemegang gbangsa.
2. Tentang Negara, Kekuasaan, dan Masyarakat
Bagi Gus Dur negara hanya akan bermakna sejauh ia tidak mengabaikan kepentingan individu rakyatnya. Pengabaian terpenuhinya hak-hak individual warga negara secara tuntas pada giliranya akan menghilangkan kepercayaan rakyat kepada sistem pemerintahan yang ada, sebab negara lalu akan tampak sebagai kekuasaan pihak yang memerintah, bukanya sebagai pelaksanaan sistem pemerintahan yang berlandaskan kedaulatan hukum. Pada sisi ini Gus Dur mengkritik paham integralistik yang menempatkan negara sebagai sentrum secara berlabiahan, sebagaimana diterapkan di Indonesia. Salah satu karakteristik Gus Dur untuk selalu menghindarkan visinya dari titik eksmtre di antara dua kutub yang tarik menarik .
Yang tidak kalah pentingnya adalah fungsi negara sebagai penyerapan heterogenitas masyarakat dan kepentinganya. Oleh karenanya Gus Dur secara konsisten menolak formalisasi agama sebagai ideologi negara, sekalipun agama itu adalah anutan mayoritas rakyat seperti islam di Indonesia, sebab hal ini akan dapat berarti tidak terserapnya bagian-bagian tertentu dari haterogenitas masyarakat-msyarakat ini. Terlebih lagi, Gus Dur tidak yakin bahwa islam memang memiliki konsep pemerintahan yang definitif, sehingga pemaksaan diterapkan islam sebagai tatanan tunggal penyelenggaraan negara secara konseptual tidak beralasan.Ia membuktikan bahwa dalam satu aspek kenegaraan yang paling pokok tentang persoalan suksesi kepemimpinan, islam ternyata tidak menunjukan konstanta tertentu. Bagi Gus Dur yang terpenting suatu negara ditegakan diatas banyak pilar yang mengidahkan keragaman banyak masyarakat dimana negara itu di bangun. Bersama-sama dengan ide penyeimbangan antara pemberian kekuasaan terhadap negara dan pemenuhan secara baik akan kebebasan hak-hak individual rakyat, hal ini adalah butir terpenting dari pemikiran Gus Dur tentang negara. Dan jika dicermati secara cermat, akan jelaslah bahwa sentral pemikiran Abdurrahman Wahid adalah rakyat.
3. Tentang (Umat) Islam NU
Cetusan-cetusan ideatif Abdurrahman Wahid tentang islam adalah sisi pemikiranya yang paling rawan dan sangat rentang terhadap kontrofersi. Disudut inilah ia kerap memperoleh serangan sebagai pro-kristen, agen zionis dan berbagai tuduhan yang minor lainya. Persoalanya adalah ia sangat menentang penempatan islam dalam pagar islam yang eksklusifistik, sesuatu yang disadari atau tidak begitu berurat akar dalam benak sebagai umat islam. Ia selalu mengajak umat islam untuk mengembangkan sikap eklektik, daya serap positif yang tinggi terhadap budaya luar yang dimungkinkan untuk memberikan manfaat bagi diri dan umat islam pada umumnya, sebagaimana yang dicontohkan oleh tradisi islam selama berabad-abad dahulu.
Untuk meletakkan pemikiran Abdurrachman Wahid tentang islam dalam perspektif, sebelumnya harus dilihat lebih dahulu pendekatan apa yang digunakannya. Gus Dur sendiri membagi pendekatan yang digunakan oleh umat islam dalam usaha menampilkan citra islam kedalam kehidupan kemasyarakatan ke dalam tiga variasi. Pertama, pendekatan sosial-politik yang menekankan perlunya keikutsertaan dalam sistem kekuasaan yang ada. Tendensinya adalah untuk menampilkan watak ideologis islam serta menonjolnya sifat eksklusifistik islam terhadap agama, paham, dan ideologi lain. Kedua, pendekatan kultural semata-mata, yang berkehendak untuk mewujudkan islam dalam kesadaran hidup sehari-hari, tanpa keterkaitan dengan kelembagaan apapun kecuali dalam konteks penyebaran islam secara budaya itu sendiri. Ketiga, Pendekatan sosio-kultural yang mengutamakan sikap mengembangkan pandangan dan perangkat kultural “ yang dilengkapi oleh upaya membangun sistem kemasyarakatan yang sesuai dengan wawasan budaya yang inhghin di capai itu.” Pendekatan ini lebih mementingkan aktifitas budaya dalam konteks pengembangan lembaga-lembaga yang baru yang dapat mendorong transformasi sistem sosial secara evolutif dan gradual. Disini tidak dipentingkan sikap untuk masuk kedalam sistem kekuasaan atau tidak. Dalam pendekatan ini dapat dengan mudah dimasukkan “ Agenda islam ” ke dalam “Agenda Nasional” bangsa secara inklusifistik. Pemikiran Gus Dur berada dalam katagori pendekatan ketiga ini, yang menginginkan islam menjadi kekuatan komplementer bagi kehidupan bangsa secara keseluruhan. Ia secara konsisten menolak islam dijadikan sebagai ideologi dan sistem alternatif, apa lagi sebagai faktor tandingan yang bersifat disintegratif terhadap kehidupan bangsa. Ia mengingatkan pelajaran yang pernah diberikan oleh sejarah, bahhwa keinginan akan berlakunya ideologi islam di Indonesia selalu terbentur pada kenyataaan akan langkahnya dukungan dari masa islam sendiri secara konkrit.
Selanjutnya, pemikiran Gus Dur tentang NU sebagian besar sudah tercover dalam pemikiran tentang Islam dan umat Islam diatas, sebab baginya NU adalah bagian yang sama sekali integral dari umat Islam Indonesia bahkan Bangsa Indonesia secara holistik yang juga perlu dicatat adalah bagaimana Abdurrachman meletakkan reorientasi politik NU dalam konteks politik nasional, sebagaimana kebanyakan prilaku NU juga harus ditinjau dalam kaitannya dengan konteks makro. Yang menggambarkan bahwa pada masa orde baru telah muncul perkembangan yang berlawanan arah sebagai akibat ambivalensi kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap umat Islam.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Abdurrachaman Wahid atau populer dengan sebutan Gus Dur adalah putra Wachid Hasjim yang dilahirkan pada tahun 1940 di Jombang. Di kota kelahirannya Gus Dur aktif mengajar dan pernah menjabat Dekan Fakultas Ushuludin Universitas Hasyim Asy’ari dan lima tahun berikutnya menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng Jombang. Abdurrachman merupakan sosok yang telah mengalami pematangan dalam alam radisionalisme dan modernisme sekaligus yang membuatnya mampu bersikap kritis dan atas keduanya, Abdurrachaman adalah pemikir dan praktisi sekaligus yang membuatnya seimbang dalam pengembangan ide dan realisasinya dalam masyarakat, dia juga orang yang selalu terlibat dalam diskursus keIndonesiaan kontemporer sehingga sangat beralasan jika Abdurrachman Wahid disebut sebagai tokoh modernis Islam di Indonesia.
Sebagai seorang tokoh modernis Islam Abdurrachman Wahid memiliki beberapa ide pemikiran yang dapat dijadikan perbaruan Islam di Indonesia. Pertama, pemikirannya tentang ideologi, menurutnya ideologi munculnya secara kontroversial menjelang pengasastunggalan Pancasila. Ideologi diletakkan pada neraca penilaian yang amat pragmatis dan tidak terlalu diagungkan sebagai suatu benda suci. Baginya fungsi utama ideologi adalah sebagai faktor pemersatu bangsa serta pemberi arah bagi penyelenggaraan pemerintahan negara. Kedua, tentang negara kekuasaan dan masyarakat. Bagi Gus Dur negara hanya akan bermakna sejauh ia tidak mengabaikan kepentingan individu rakyatnya. Pada sisi ini Gus Dur mengkritik paham integralistik yang menempatkan negara sebagai sentrum secara berlebihan sebagaimana di Indonesia. Bagi Gus Dur yang terpenting suatun negara ditegakkan di atas banyak pilar yang memudahkan keragaman masyarakat dimana negara itu dibangun. Bersama-sama dengan ide penyeimbangan antara pemberian kekuasaan terhadap negara dan pemenuhan secara baik akan kebesbasan dan hak-hak individual rakyat. Hal ini adalah butir terpenting dalam pemikiran Gus Dur tentang negara. Ketiga, tentang umat Islam dan NU, cetusan-cetusan Abdurrachman tentang Islam adalah sisi pemikirannya yang paling rawan dan sangat rentan terhadap kontroversi. Gus Dur sendiri membagi pendekatan yang digunakan oleh umat Islam dalam usaha menampilkan citra Islam kedalam kehidupan kemasyarakatan dalam tiga varian. Pertama, pendekatan sosial politik yang menekankan perlunya keikutsertaan dalam sistem kekuasaan yang ada. Kedua, pendekatan kultur semata-mata yang berkehendak untuk mewujudkan Islam dalam kesadaran hidup sehari-hari. Ketiga, pemdekatan sosio-kultural yang mengutamakan sikap mengembangkan pandangan dan perangkat kultural yang dilengkapi oleh upaya membangun sistem kemasyarakatan yang sesuai dengan wawasan budaya yang ingin dicapai itu.

Daftar Pustaka

Amin Azis Ahmad, Neo Modernisme Islam di Indonesia gagasan sentral Nurcholis Madjid dan Abdul Rahman Wahid, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999.
Gaffar Affan , Metamorfosis NU dan Politisasi Islam Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1995.
Ghazali Rohim, Gus Dur dalam Sorotan Cendekiawam Muhammadiyah, Bandung: Mizan Pustaka, 1999.
Ismail Faisal, Dilema NU di Tengah Badai Pragmatisme Politik, Jakarta: Departemen Agama RI, 2004.
Mark R Wood, Jalan Baru Islam, Bandung: Mizan Pustaka, 1996.
Mochtar Affandi, Dinamika NU Perjalanan Sosial dari Mukhtar Cipasung 1994 ke Muktamar Kediri 1999, Jakarta: Kompas, 1999.
Taufiek Akhmad dkk, sejarah pemikiran dan tokoh modernisme islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.
http://www.google.com

About lailintittut

q gak gampang putus asa...

Posted on Oktober 17, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: